TERKESAN POSITIF, NAMUN RISKAN UNTUK DIPROGPAGANDAKAN

Di jalan-jalan yang terbentang luas, suara-suara protes menggema. Demonstrasi bukan sekadar aksi spontan, melainkan puncak dari kekecewaan dan keresahan yang telah lama terpendam. Rakyat bersatu, menuntut keadilan dan perubahan. Dari kota hingga desa, masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul untuk menyuarakan aspirasi mereka. Mereka menuntut hak-hak yang telah lama diabaikan, menuntut perubahan yang nyata.

Tepat pada tanggal 1 September 2025, Aliansi Lampung Melawan bersama seluruh elemen masyarakat melakukan demonstrasi di depan gedung DPRD Wilayah lampung, untuk menyampaikan seluruh keresahan dan kemarahan yang terakumulasi dalam beberapa tahun belakangan ini. Saya adalah salah satu bagian dari mereka yang ikut turun kejalan membersamai masyarakat secara kolektif untuk menuntut hak - hak mereka, tentu saya mengetahui apa saja dinamika - dinamika yang terjadi dalam garis perjuangan. Mulai dari pelepasan di tiap tiap kampus terhadap masiswa yang ingin turun kejalan hingga keluarnya narasi yang terkesan positif namun disisi lain sebuah hal yang riskan untuk di progpagandakan.

“Boleh saja unjuk rasa, asalkan tertib, supaya berakhir damai”, inilah narasi yang pada hari ini beredar di berbagai platfrom media sosial, sangat terkesan positif sekali bukan? Namun disisi lain jika narasi ini terus - menerus disebar luaskan secara masif, maka akan mempengaruhi perspektif masyarakat yang pada akhirnya menimbulkan sebuah kebenaran baru. Hal ini pernah pertegas juga oleh George Garbner yang diperkenalkan melalui studi “Cultural Indicator” sekitar tahun 1960. Dengan hipotesis bahwa permisa cenderung mempertahankan konsepsi dan keyakinan mereka sejalan dengan apa yang disajikan di dunia digital.

Kemarahan masyarakat yang ditumpahkan kejalan karena akumulasi kekecewaan yang sudah lama ditabung sejak kekuasaan rezim Jokowi yang mengarah pada ekonomi politik dengan menghamba pada kepentingan modal, menjadikan indonesia sebagai ajang eksperimen besar-besaran dalam menerapkan kebijakan ekonomi kapitalistik. Dengan dalih meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan investasi, pemerintah Jokowi membuka lebar-lebar pintu bagi modal asing dan swasta untuk masuk ke berbagai sektor strategis. Selain itu, Proyek Ibu Kota Nusantara, yang mengorbankan ruang hidup masyarakat adat, merupakan contoh nyata dari kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Perluasan food estate yang merusak lingkungan juga menunjukkan bahwa pemerintahan ini lebih mengutamakan kepentingan ekonomi daripada kelestarian lingkungan dan kesejahteraan rakyat.

Kemudian diperparah oleh rezim fasis Prabowo-Gibran lewat kebijakannya yang justru menguatkan penindasan itu sendiri. rezim fasis Prabowo-Gibran telah memperlihatkan wajah nyata dari sistem kapitalisme yang memperparah penderitaan rakyat. Dengan melanjutkan jejak neoliberal rezim sebelumnya, pemerintahan ini telah menunjukkan bahwa kepentingan modal besar dan elite lebih diutamakan daripada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selain itu, kriminalisasi aktivis dan mahasiswa yang menentang kebijakan pemerintah juga menunjukkan bahwa pemerintahan ini tidak toleran terhadap kritik dan aspirasi rakyat. Anggaran militer yang terus digembungkan, sementara kebutuhan dasar rakyat diabaikan, juga memperlihatkan bahwa pemerintahan ini lebih mengutamakan kepentingan keamanan daripada kesejahteraan rakyat. Lebih ironis lagi, pemerintahan ini dipimpin oleh figur yang memiliki rekam jejak hitam dalam sejarah bangsa. Prabowo, yang namanya tercatat dalam kasus penculikan dan penghilangan paksa aktivis ’98, tragedi Timor Timur, dan berbagai operasi militer berdarah lainnya, kini memimpin pemerintahan yang lebih berpihak pada modal besar dan kepentingan elite.

Di titik inilah kita harus menyadari bahwa perjuangan tidak boleh berhenti di jalanan semata. Perlawanan mesti tumbuh di ruang-ruang diskusi, di kampus, di desa, di komunitas, hingga di ruang digital. Kita harus melawan narasi yang dipoles indah namun sejatinya menyesatkan. Kita harus mengingatkan bahwa demokrasi sejati bukan sekadar kebebasan yang dikontrol, melainkan ruang penuh bagi rakyat untuk menentukan arah hidupnya sendiri.Selama negara dipimpin oleh rezim fasis dengan jejak pelanggaran HAM yang panjang, maka perlawanan akan selalu menemukan jalannya. Kita harus terus berjuang untuk keadilan sosial, untuk demokrasi yang sebenarnya, dan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

DIVISI KAJIAN & PENELITIAN

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KKN UIN RIL

BRUTALITAS APARATUR

Makan Bergizi Gratis ( MBG )